Karena menemani istrinya, tanpa sadar Keenan pun ikut terlelap. Ketika ia terbangun, jarum jam telah menempel di angka tiga sore. Perut Keenan terasa keroncongan, menyadari belum sekalipun menyentuh makanan hari itu. Karena tubuh Keenan bergeser meski pelan, hal itu mengusik Nadine yang perlahan membuka matanya. "Mas, kamu masih di sini? Kamu temenin aku tidur?" bisiknya dengan suara serak, penuh kehangatan. Keenan tersenyum tipis, mengangguk mantap. "Iya, Sayang. Memangnya kenapa? Bukankah tidurmu menjadi nyenyak?" "Iya, Mas. Rasanya begitu nyaman saat kamu ada di dekatku." Nada bicara Nadine lembut, menyejukkan. Dia menatap Keenan dengan sorot mata penuh rasa, lalu senyum manis itu muncul, mekar di sudut bibirnya. "Kamu adalah tempat ternyaman yang pernah aku miliki." Keenan terdiam

