Rossa terpaku, jantungnya berdegup kencang saat mata Daniel menembus dirinya dengan sorotan yang menusuk hingga ke relung hati. Namun, secepat kilat ia mengingat penyamaran yang dirinya kenakan—selendang membalut kepala, kacamata hitam tebal menutupi mata dan masker yang menyembunyikan bibirnya. Mustahil seseorang mengenalinya dalam wujud begini. Dengan napas tertahan, Rossa merapikan diri dan berusaha menyamarkan suaranya, "Maaf, saya salah kamar. Saya pikir ini ruangan keluarga saya." Ia menundukkan kepala, lalu melangkah dengan cepat, hendak menghindar. Namun, tiba-tiba tangan Daniel meraih kuat pergelangan Rossa, mencengkeram tanpa ampun. "Tunggu!" Suaranya dalam, penuh peringatan. Matanya yang waspada memperlihatkan ketegangan luar biasa. Daniel sengaja kembali setelah mendapat kab

