Bab 53

1923 Kata

Pukul dua dini hari. Rumah Arvin biasanya sunyi pada jam seperti itu. Dulu, hanya suara pendingin udara dan sesekali bunyi mobil yang melintas di jalan depan yang terdengar. Namun malam itu berbeda. Tangisan bayi memecah keheningan. Suara kecil itu mula-mula seperti desahan, lalu berubah menjadi tangisan yang lebih keras. Beberapa detik kemudian, tangisan kedua menyusul dari arah boks bayi yang lain. Zahra bergerak sedikit di tempat tidur, alisnya berkerut. Tubuhnya masih terasa berat. Ia bahkan belum benar-benar membuka mata ketika suara langkah kaki sudah terdengar dari sisi ranjang. Arvin sudah bangun lebih dulu. Lampu tidur menyala redup saat ia mencondongkan tubuh ke arah boks bayi di dekat jendela. “Shh… shh… Papa di sini,” gumamnya pelan. Tangisan bayi pertama langsung mere

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN