Tiga bulan kemudian. Gedung pengadilan pagi itu dipenuhi lautan manusia. Kamera berjejer di luar pagar. Wartawan berdiri berkelompok, berbicara cepat sambil sesekali melirik ke arah pintu utama. Beberapa masyarakat yang mengikuti kasus itu sejak awal juga datang—berdiri, menunggu, seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun dari akhir yang telah lama dinantikan. Hari itu adalah sidang terakhir. Kasus yang sempat hampir mengubur seorang pria tak bersalah seumur hidup kini mencapai titik akhirnya. Dan kali ini, semua mata tertuju pada satu nama. Arvin melangkah turun dari mobilnya dengan tenang. Jas hitamnya rapi. Wajahnya datar. Namun sorot matanya tajam. Di sampingnya, beberapa anggota tim berjalan mengikuti. Alana terlihat menggenggam map erat, sementara Dimas berjalan sedikit
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


