Malam semakin larut ketika satu per satu tamu meninggalkan tempat resepsi. Lampu-lampu masih menyala, tapi suasana sudah jauh lebih tenang. Tawa yang tadi memenuhi ruangan kini berganti dengan obrolan ringan keluarga yang tersisa. Cici duduk di kursi, sedikit membungkuk sambil melepas sepatu haknya. “Ya ampun… akhirnya selesai juga,” gumamnya sambil tertawa kecil. Gilang berdiri di sampingnya, membuka kancing jasnya. “Capek?” Cici mendongak. “Banget. Tapi senang.” Gilang tersenyum. Sebelum sempat mereka benar-benar menikmati jeda itu, Zahra datang mendekat, diikuti Arvin. Di tangan Zahra ada sebuah kotak berwarna putih elegan, dibungkus rapi dengan pita sederhana. “Ci…” panggil Zahra lembut. Cici menoleh. “Mbak?” Zahra tersenyum, lalu menyodorkan kotak itu. “Ini… dari aku sama

