Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit itu, Zahra tidak banyak bicara. Mobil melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu toko berpendar kekuningan, dan dari balik kaca jendela, bayangan dirinya memantul samar—wajah yang dulu sering ia pandangi dengan rasa cemas kini terlihat berbeda. Lebih tenang. Arvin meliriknya beberapa kali. Ia sudah mengenal setiap perubahan kecil pada ekspresi istrinya. “Kamu capek?” tanyanya lembut. Zahra menggeleng pelan. “Enggak.” Benar. Ia tidak merasa capek. Ia merasa lega… lega karena akhirnya rasa bersalah yang membuat dadanya sesak telah selesai. Kunjungan tadi bukan hanya tentang menjenguk Miranda. Bukan sekadar menunjukkan empati atau membuktikan kebesaran hati. Ada sesuatu yang benar-benar tertutup di dalam dirinya saat ia

