Bau antiseptik menyambut mereka begitu pintu lift terbuka di lantai perawatan intensif. Langkah Zahra melambat sepersekian detik, namun kali ini bukan karena ragu—melainkan karena ia ingin menata napasnya dengan tenang. Arvin berjalan di sampingnya. Tidak menggenggam tangannya seperti kunjungan pertama dulu, tidak pula menjaga jarak. Ia hanya berjalan sejajar, bahu mereka sesekali bersentuhan ringan. Kehadiran yang setara. “Siap?” tanya Arvin pelan. Zahra mengangguk. “Iya.” Ia benar-benar siap. Di depan kamar, orang tua Miranda sedang duduk berdampingan. Wajah mereka tampak lebih tirus dibanding terakhir kali Zahra melihatnya. Kurang tidur dan terlalu banyak menangis meninggalkan jejak yang tidak bisa disembunyikan. Ibu Miranda berdiri lebih dulu ketika melihat mereka. “Terima kasih

