Julian 158

1001 Kata

Julian datang ke mal itu sendirian, tanpa sopir, tanpa asisten, tanpa rencana besar yang tertulis di kepala. Ia hanya tahu satu hal: ia ingin miembawa pulang sesuatu untuk dua perempuan yang paling berarti dalam hidupnya. Ryujin. Dan Jasmine. Langkahnya pelan menyusuri koridor yang sudah mulai ramai. Suasana siang itu tenang, tidak terlalu bising, tapi cukup hidup. Julian tidak terburu-buru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar datang ke sini bukan untuk urusan kerja, bukan untuk rapat, bukan untuk bertemu klien. Ia datang sebagai seorang suami. Sebagai seorang ayah. Ia berhenti di depan sebuah butik yang sudah lama ia kenal. Etalasenya selalu rapi, pencahayaannya lembut, dan gaun-gaun yang dipajang di balik kaca selalu terlihat seperti bukan sekadar pakaian, melain

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN