Julian menarik koper Ryujin keluar dari terminal kedatangan dengan langkah santai, seolah ia sama sekali tidak baru saja menculik seseorang secara emosional ke dalam hidupnya. Jaket hitamnya terbuka, kemeja putihnya rapi, dan kacamata hitam masih bertengger di hidungnya meski mereka sudah berada di dalam gedung bandara. Ryujin berjalan di sampingnya, berusaha menyeimbangkan langkah sambil menahan napas, karena ia baru saja mengetahui rencana Julian yang jauh lebih gila dibanding hari-hari mereka di Italia. Begitu pintu otomatis terbuka dan udara Jakarta menyambut dengan panasnya yang khas, Ryujin akhirnya membuka mulutnya. “Julian… kita ke mana?” Julian tidak melihatnya. “Ke apartemen.” Ryujin mengangguk, awalnya tidak menaruh curiga. “Oke. Kamu tinggal sendiri, kan?” Julian berhenti.

