Julian memeluk ryujin dari belakang dengan gerakan perlahan, seakan ingin menandai bahwa gadis itu sudah menjadi bagian dari dunianya. Tangannya terangkat mengusap rambut ryujin dengan lembut, sesuatu yang hanya dia lakukan pada wanita yang ia inginkan sepenuh hati—atau setidaknya, sepenuh ego dan keinginannya. “Ryujin,” bisiknya lembut di sisi telinga gadis itu, “kamu pernah terpikir mau hamil anakku nanti?” Ryujin yang tadinya hanya diam merasakan detak jantungnya melonjak. Ia berbalik perlahan, menatap julian sambil mengalungkan tangannya di leher lelaki itu. Wajahnya memerah, bukan hanya karena malu, tetapi karena ia merasakan sesuatu yang ia sendiri tidak sanggup jelaskan. Ada harapan. Ada ketakutan. Ada godaan untuk percaya. “Aku mau hamil anak kamu,” jawabnya lembut, “tapi kamu h

