Jam dindibng berpendar redup ketika Ryujin membuka mata. Angkanya menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Tangisan itu datang lagi—pelan di awal, lalu naik turun, khas tangis bayi yang terbangun dari tidur dalam. Jasmine. Ryujin menghela napas kecil dan hendak bangkit, namun tangan Julian lebih dulu menahannya. “Tidur saja,” bisik Julian dengan suara serak karena kantuk. “Aku yang ke sana.” Ryujin menoleh, ragu. “Kamu yakin?” Julian sudah duduk di tepi ranjang, meraih kausnya. “Iya. Kamuu capek. Dari kemarin bolak-balik ngurus Jasmine. Sekarang giliranku.” Tangisan Jasmine terdengar sedikit lebih keras. Ryujin menggigit bibirnya, naluri keibuannya mendesak untuk segera bangun. Namun Julian sudah berdiri, mencondongkan tubuh dan mencium keninhgnya dengan lembut. “Percaya sama aku,” ucap

