Pagi di Jakarta terasa berbeda setelah beberapa hari mereka pulang dari Sumatera Barat. Langit masih abu-abu tipis ketika Ryujin sudah duduk di ruang tengah dengan mata sembab. Jasmine masih tertidur di kamar, rumah masih sunyi, tetapi tangisan pelan terdengar berulang dari sofa tempat Ryujin dudhuk memeluk bantal. Julian keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit berantakan. Ia langsung berhenti ketika melihat istrinya menangis seperti itu. “Hei… kenapa?” tanyanya pelan sambil mendekat. Ryujin menggeleng, tetapi air matanya justru semakin deras. “Aku mau kolak pisang…” Julian berkedip beberapa kali. “Kolak pisang?” Ryujin mengangguk cepat. “Yang buatan Mama kamu.” Julian duduk di sampingnya. “Kita bisa pesan dari luar.” Ryujin langsung menggeleng lebih keras. “Tidak sama. Aku mau

