Malam itu udara Padang terasa hangat dan ramai. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang sedikit lembap, suara kendaraan bercampur dengan tawa orang-orang yang duduk di warung pinggir jalan. Ryujin yang sejak tadi berjalan santai di trotoar tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menarik tangan Julian dengan semangat. “Julian,” katanya cepat. Julian yang sedang menggendong Jasmine hampir kehilangan keseimbangan. “Astaga, pelan-pehlan. Kamu lagi hamil, bukan lagi lomba lari.” “Aku mau sate Padang. Sekarang. Yang paling enak. Yang paling terkenal.” Julian tertawa kecil. “Bukannya tadi sudah makan rendang dua piring?” Ryujin memandangnya serius. “Itu makan siang. Ini lain cerita.” Jasmine yang berada di pelukan Julian menepuk pipi papanya. “Pa… pa…” Julian tersenyum pada putrinya. “Liha

