Julian 74

1837 Kata

Yokinawa duduk di kursi kulit hitamnya di kantor lantai paling atas, menatap kota yang berkilauan di malam hari. Lampu-lampu jalan dan kendaraan yang bergerak lambat membentuk pola yang biasa, tapi matanya sama sekali tidak tertarik pada pemandangan itu. Pikiran Yokinawa penuh dengan satu hal: Julian. Kemarahan menggerogoti dirinya. Ia tidak percaya, seorang anak muda yang usianya jauh lebih rendah, berani menggerakkan transaksi yang selama ini ia anggap sebagai wilayahnya. Transaksi kecil kemarin bagi Julian hanyalah penggelapan yang tidak berarti. Bagi Yokinawa, itu penghinaan. Ia merasa direndahkan. Bagaimana mungkin Julian, yang bahkan belum setengah umurnya, berani bersikap seolah dunia ini miliknya? Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN