Yokinawa berdiri mematung di tepi tebing yang menghadap langsung ke hamparan laut luas. Angin laut menerpa wajahnya tanpa ampun, membawa aroma asin yang selama puluhan tahun selalu menjadi saksi perjalanan hidupnya. Laut itu tenang, namun di dalam dadanya, badai mengamuk hebat. Tangannya mengepal keras, urat-urat menonjol jelas, rahangnya mengeras seolah ingin menghancurkan sesuatu yang tak terlihat. Pandangannya kosong, menembus cakrawala, namun pikirannya dipenuhi satu nama yang terus berputar tanpa henti. Julian. Baginya, nama itu bukan sekadar nama. Julian adalah simbol penghinaan, simbol ketidakadilan, simbol dunia yang menurut Yokinawa telah salah memilih siapa yang pantas berada di puncak. Umur Julian masih jauh di bawahnya, pengalaman hidupnya tidak sepanjang dirinya, namun dunia

