Langit sore di Jakarta tampak keemasan ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Air kolam renang di penthouse Julian berkilauan diterpa cahaya lembut itu, memantulkan warna jingga yang indah. Suara gemericik air menjadi satu-satunya musik yang terdengar. Julian baru saja menyelesaikan dua putaran renang, tubuhnya masih setengah terendam di air, sementara Luna duduk di kursi panjang di tepi kolam, memandangi pemandangan kota dari ketinggian. Sudah beberapa hari sejak insiden penculikan itu. Luna masih sering terbangun di malam hari karena mimpi buruk, tapi setidaknya kini ia merasa aman. Aman karena ada Julian. Lelaki itu jarang bicara, lebih sering memerintah dengan nada dingin, tapi entah mengapa, sejak ia diselamatkan dari pelabuhan, caranya menatap Luna berubah

