JULIAN 85

2324 Kata

Rumah tua itu akhirnya benar-benar sunyi. Tidak ada lagi suara langkah tergesa, tidak ada lagi napas terengah, tidak ada jeritan tertahan yang sebelumnya memenuhi setiap sudut bangunan reyot itu. Bau besi dari darah bercampur dengan aroma kayu lapuk dan tanah lembap, menciptakan suasana yang begitu pekat hingga membuat udara terasa berat saat dihirup. Julian berdiri di tengah ruang utama rumah itu, jas hitamnya ternoda cipratan merah yang belum sempat mengering. Wajahnya tetap datar, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan ataupun kepuasan. Semua tubuh yang tergeletak di lantai bukan lagi manusia di matanya, melainkan sisa-sisa kesalahan Yokinawa yang harus dihapus sampai ke akarnya. Ia melangkah perlahan, sepatunya menginjak genangan darah tanpa ragu. Matanya bergerak tajam, memeriksa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN