Julian 84

2979 Kata

Julian membaca pesan itu berulang kali. Tangannya tidak gemetar, tapi rahangnya mengeras sampai terasa nyeri. Ruangan yang semula dipenuhi suara rapat mendadak sunyi. Semua anak buahnya bisa merasakan perubahan udara hanya dari cara Julian berdiri dan menatap layar ponselnya. “Boss?” salah satu dari mereka memberanikan diri bicara. Julian mengangkat kepala perlahan. Matanya gelap, bukan marah yang meledak-ledak, tapi dingin dan terkontrol. Jenis kemarahan yang jauh lebih berbahaya. “Ryujin dan Jasmine diculik,” katanya singkat. Beberapa orang langsung berdiri. Ada yang mengumpat pelan. Ada yang refleks mengepalkan tangan. “Oleh siapa?” tanya JanIa, suaranya serak. Luka di pelipisnya belum sepenuhnya ditangani, tapi ia memaksa hadir. Julian tidak perlu menyebut nama itu dengan emosi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN