Pagi itu datang dengan tenang, terlalu tenang untuk ukuran rumah yang biasanya selalu diisi suara kecil Jasmine. Cahaya matahari masuk pelan lewat chelah tirai, menyentuh lantai kamar dengan warna hangat. Di balkon, Julian berdiri sambil memegang secangkir kopi, menikmati udara pagi dan keheningan yang jarang ia dapatkan. Ryujin sedang di kamar mandi, bersiap sebentar sebelum menyiapkan sarapan. Mereka berdua sama-sama mengira Jasmine masih tertidur nyenyak seperti biasanya. Namun di kamar kecil di sebelah, Jasmine terbangun. Ia membuka mata, menatap sekeliling dengan bingung. Tidak ada Mama. Tidak ada Papa. Hanya sunyi dan cahaya yang asing. Bibir kecilnya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia duduk, lalu berdiri berpegangan pada sisi ranjang, menoleh ke kanan dan kiri seolah berhar

