Pagi setelah malam yang penuh ketegangan itu terasa berbeda. Rumah memang masih berdiri kokoh dengan pagar baja tinggi dan sistem keamanan aktif, tetapi suasananya tidak lagi selembut biasanya. Udara terasa lebih berat, seolah setiap sudut menyimpan kewaspadaan. Ryujin berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhbana. Jasmine duduk di kursi kecilnya sambil memeluk boneka Barbie, menggerak-gerakkan tangan boneka itu seperti sedang berbicara sendiri. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Julian masuk ke dapur dengan langkah tenang, tapi wajahnya menunjukkan bahwa pikirannya masih bekerja keras. “Kamu tidak tidur nyenyak,” kata Ryujin tanpa menoleh. Julian berhenti sejenak. “Aku tidur.” Ryujin menoleh pelan. “Tapi tidak nyenyak.” Julian tidak menyangkal. Ia berjalan mendekat dan berdir

