Julian 197

1817 Kata

Pagi itu matahari sudah naik cukup tinggi ketika suara tangisan kecil menggema dari lorong lantai atas. Tabngisan itu bukan tangisan biasa yang cepat reda. Itu tangisan panjang, penuh protes, penuh tuntutan. “Papa… Papa…” Ryujin yang sedang duduk di tepi ranjang langsung berdiri dengan panik. Ia baru saja selesai menyisir rambutnya ketika mendengar suara itu. “Jasmine?” panggilnya cepat sambil berjalan keluar kamar. Tangisan semakin keras. “Papa… mau Papa…” Ryujin menemukan Jasmine berdiri di depan kamar kerja Julian yang kosong. Rambut kecilnya acak-acakan, wajahnya merah karena menangis. “Ada apa, Sayang?” tanya Ryujin lembut sambil berlutut. Jasmine menggeleng keras, air mata jatuh deras. “Papa… Papa…” Ryujin mencoba meraih tangan kecil itu. “Mama di sini.” Jasmine langsung me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN