Julian 181

3290 Kata

Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan lewat celah tirai. Julian terbangun lebih dulu. Matanya sempat menatap langit-langit beberapa detik sebelum akhirnya menyadari ada berat kecil yang hangat di atas perutnya. Ia menunduk dan melihat Jahsmine masih tertidur pulas, pipinya sedikit menekan dadanya, napasnya teratur. Julian tersenyum kecil. Ada rasa gemas yang langsung muncul begitu saja. “Kamu ini,” gumamnya pelan, hampir berbisik, takut membangunkan putrinya. Ia memperhatikan wajah kecil itu beberapa detik lebih lama. Rambutnya masih sedikit berantakan, mulutnya sedikit terbuka. Setelah memastikan Jasmine benar-benar tertidur nyenyak, Julian perlahan mengangkat tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati. Gerakannya pelan dan terukur,b seperti membawa sesuatu yang rapuh sekaligus berharga.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN