Keesokan malamnya, Ryujin berdiri di depan cermin kamarnya sambil memandangi gaun yang baru saja dikirimkan seseorang. Gaun itu berwarna merah anggur, lembut, jatuh indah mengikuti lekuk tubuh, dengan punggung terbuka elegan dan belahan rok panjang yang tidak berlebihan. Bahannya mahal, potongannya sempurna, dan ukurannya benar-benar pas. Di atasnya terdapat secarik kartu kecil bertuliskan: “Pakai ini malam ini. Aku jemput jam tujuh. —Julian.” Ryujin memegang kartu itu sambil mengerucutkan bibir, antara kesal dan malu. “Aku dipesanin gaun… sama Julian…” bisiknya sambil memukul pipinya sendiri pelan. “Astaga aku gila banget.” Ia memutar tubuh di depan cermin dan mendesah. “Tapi… gaunnya cantik banget. Bisa-bisanya dia tahu ukuran aku.” Ia tersenyum kecil, tidak bisa menyembunyikan ra

