Keesokan paginya, setelah malam panjang yang membuat perasaan Ryujin campur aduk antara bahagia, grogi, dan tidak percaya, Julian akhirnya berdiri di depan pintu apartemen Ryujin. Ia menatap wanita itu yang berdiri di ambang pintu dengan wajah setengah mengantuk, rambut sedikit berantakan namun tetap terlihat cantik. “Aku harus pulang. Luna terus menelepon,” kata Julian sambil menghela napas pelan. Ryujin menggigit bibirnya. “Kamu yakin tidak apa-apa? Kamu… benar-benar baik-baik saja?” Julian mengangguk kecil. “Aku baik. Jangan cemas. Aku akan kembali lagi nanti.” Ryujin memerah. “Kalau begitu… hati-hati, Julian.” Julian mendekat sedikit. “Ryujin. Terima kasih untuk malam ini.” Ryujin menutupi wajahnya dengan tangan. “Sudahlah… cepat pulang. Jangan bikin Luna makin curiga.” Julian t

