Julian 144

2608 Kata

Langkah kaki para pengawal bergema berat di lorong sempit bawah tanah. Lampu-lampu putih menyala satu per satu, menerangi ruang yang dingin dan tertutup. Yosi diseret masuk, tangannya diborgol, napasnya masih tersengal setelah kejadian di taman. “Lepaskan aku!” teriak Yosi sambil memberontak. “Kalian tidak berhak menahanku di sini!” Salah satu pengawal membuka pintu sel besi. “Masuk.” “Aku tidak mau!” Yosi menendang, tapi tenaganya sudah habis. Ia tetap didorong masuk. Pintu sel ditutup dengan suara **dentuman keras**. Yosi langsung menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! BUKA SEKARANG!” Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke sekeliling. Ruangan itu tidak besar, bersih tapi dingin. Sebuah bangku besi menempel di dinding. Lampu menyala terang, tanpa sudut gelap. “Julian!” t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN