Malam turun dengan pelan, membawa suasana yang berbeda dari pagi di gereja. Jika siang terasa khidmat dan tenang, pesta malam itu hangat dan hidup, tapi tetap terjaga. Aula resepsi dipenuhi cahaya lampu gantung berwarna lembut, d******i pink pastel dan putih tulang terlihat konsisten dari dekorasi bunga sampai taplak meja. Musik mengalun tidak terlalu keras, cukup untuk mengisi ruang tanpa menguasai percakapan. Julian masuk lebih dulu, menggendong Jasmine dengan satu tangan. Bayi itu sudah setengah mengantuk, tapi matanya kembali terbuka begitu melihat cahaya lampu yang berkilau. Ryujin berjalan di samping mereka, gaun pink gradasi putihnya bergerak lembut setiap kali ia melangkah. “Kita datang agak awal,” kata Ryujin pelan. Julian mengangguk. “Lebih aman buat Jasmine.” Mereka disambut

