Ryujin tidak ingat sejak kapan air matanya mulai jatuh tanpa suara. Ia hanya tahu dadanya terasa kosong dan berat bersamaan. Seperti ada sesuatu yang perlahan ditarik keluar, meninggalkan ruang dingin di dalam dirinbya. Ia duduk bersandar di sisi tempat tidur, punggungnya menempel pada kepala ranjang, tangan memeluk lutut. Napasnya tersendat beberapa kali, lalu akhirnya menyerah pada isak yang tertahan sejak tadi. Tangisnya pelan. Bukan tangis yang meledak-ledak. Lebih ke lelah. Ia menangis sampai matanya perih, sampai kepalanya terasa ringan, sampai pikirannya tidak lagi bisa menahan bayangan-bayangan yang terus muncul. Tentang foto itu. Tentang senyum Julian yang terlalu tenang. Tentang perempuan bernama Yosi yang dengan beraninya mengklaim posisi yang seharusnya bukan miliknya. Tan

