“Papa menolak untuk dikunjungi,” ujar Altaf setelah menerima panggilan dari Ivan. Ia menghampiri Ciara yang tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan, “jadi, kamu nggak bisa ketemu sama papa. Tunggu aja pas sidang.” “What! Apa alasannya?” “Dia punya hak untuk menolak kunjungan dan aku nggak tau alasannya.” Ciara bertolak pinggang setelah meletakkan bubur kacang hijau dan ketan hitam di meja makan. Ia menghela pendek dan mengerti dengan pemikiran papanya. “Kabar emas sama dolarku?” lanjut Ciara masih berharap semua itu akan kembali padanya. “Sudah jadi rupiah semua,” terang Altaf sembari duduk di kursi makan, “sementara ini masih disita sebagai barang bukti. Mungkin setelah semua proses sidang selesai, baru bisa dikembalikan. Tapi, aku nggak ngerti seperti apa prosesnya dan berapa l

