144~BC

1355 Kata

“Cia!” Sudah berkali-kali Altaf menekan bel dan mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban. Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu menghela napas pendek. Altaf mengetuk sekali lagi, lebih pelan. Berharap pintu di depannya akan terbuka dengan sendirinya. Namun, yang menyambutnya tetap keheningan. “Mas! Gimana?” tanya Ranu ngos-ngosan setelah berlari kecil dari lift. “Aku sudah telpon resepsionis, bentar lagi ada yang datang.” Altaf menggeleng. “Belum dibuka.” “Aku takut–” Ranu menutup cepat mulutnya dengan kedua tangan, ketika menyadari ada Farhan di antara mereka. Tatapannya lantas tertuju pada Altaf dengan menggeleng samar. Altaf menghela panjang dan menatap Farhan. Rasa khawatir terhadap adiknya yang paling kecil itu semakin menjadi-jadi. Bagaimana jika Farhan melihat apa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN