“Ibu!” Dinda tersentak. Menyentuh d**a dengan kedua tangan saat melihat Ira berdiri di samping jendela ketika ia baru saja masuk. “Ibu ngapain berdiri di sini? Ngintip, ya?” “Mau nyapu,” jawab Ira mengangkat pelan sapu yang masih dipegangnya, lalu menunjuk debu di lantai yang ia pinggirkan ke sisi dinding. “Ngapain tadi si pak Duda?” “Tuh, kan, ngintip.” “Ibu nggak ngintip, Ibu lihat langsung.” “Kalau nggak ngintip, ngapain berdiri di sini? Nggak keluar?” “Pertanyaan Ibu belum dijawab.” Ira buru-buru kembali ke topik pembicaraan. Matanya memicing, untuk menginterogasi putrinya. “Ibu itu sudah curiga dari semalam. Mau tanya, tapi lupa karena keburu bahas masalah cicilan sama Cinta.” Dinda mengerut dahi. “Ngapain pake curiga?” “Pak Duda lagi nyari istri.” “Terus, apa hubungannya sam

