“Sudah selesai, ngerumpinya?” Bias memutar bola matanya, ketika Cinta baru kembali dari balkon. Sejak tadi, Bias hanya mendengar suara tawa istrinya yang tengah mengobrol dengan Dinda di telepon. Sementara dirinya, berada di kamar bersama Cibi. “Sudah.” Cinta meringis lalu ikut bergabung bersama Bias di tempat tidur Cibi, setelah meletakkan ponselnya di nakas. “Kalian lagi gibahin pak Felix, kan!” ujar Bias sambil mengetuk-ngetuk boneka jari di hidung putrinya yang berdiri di pangkuan, “ckckck!” Cinta terkikik. “Kita tunggu undangan aja bentar lagi.” “Seriusan pak Felix sama Dinda?” tanya Bias belum bisa percaya sepenuhnya. “Kenapa memangnya?” Cinta mengambil putrinya ke pangkuan. Namun, Cibi kembali merangkak pergi mendekati Bias. “Nggak masalah, kan?” “Ya, yaaa, nggak papa jug

