106~BC

2030 Kata

“Bi.” Cinta mencubit-cubit pelan perut Bias yang masih terlelap. Sebenarnya, ia tidak tega membangunkan sang suami yang baru pulang lewat tengah malam. Namun, karena harus berangkat bekerja, mau tidak mau ia harus melakukannya untuk berpamitan. “Papa Bi,” ucapnya lembut. Hal itu Cinta lakukah hingga beberapa kali sampai akhirnya Bias menggumam. Menatapnya dengan mata yang berat. “Aku mau kerja,” ucap Cinta mengusap pipi Bias, “udah jam delapan ini. Vanya sudah datang.” Bias memandang istrinya tanpa kata. Masih mengumpulkan seluruh kesadarannya. Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda di wajah Cinta. Bias sampai harus mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan apa yang dilihatnya. “Lipstikmu … merah?” tanya Bias menyipitkan matanya. Selama mengenal Cinta, istrinya itu selalu memak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN