“Ketuk pintu dulu, Cinta,” tegur Altaf saat adiknya nyelonong masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. “Kamu juga gitu, kalau masuk ke ruanganku nggak pake ketuk pintu.” Altaf menarik napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan dengan Cinta yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. “Kamu sendiri? Cibi mana?” tanya Altaf beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Cinta yang baru duduk di sofa. “Aku sendiri. Cibi di ruanganku sama mbak Denok.” Cinta menegakkan tubuh. Wajah santainya berubah serius. “Rumah Dinda mau dibayar cash. Aku minta hitungkan berapa sisanya. Dan skenarionya begini, waktu itu Dinda beli lewat aku. Tapi karena aku punya bayi dan nggak bisa carikan rumah, jadinya aku minta tolong sama kamu. Kita samakan cerita, karena ada perasaan yang harus dijaga.” Al

