95~BC

1699 Kata

“Sekali ini aja, Pa.” Ciara mulai merengek untuk membujuk Kiano. “Please temui mama.” “Sudah Papa bilang, Papa nggak akan nemui mamamu,” ucap Kiano tanpa melepas tatapannya pada laptop di pangkuan. Ia sedang bersantai, setelah menikmati sarapan pagi bersama Ciara dan Farhan. “Papa nggak bisa maafin dia karena sudah berencana melenyapkan Cinta. Mau sebenci apa pun mamamu dengan Cinta, dia itu tetap anak Papa.” “Aku tau perbuatan mama nggak bisa dibenarkan, tapi sebagai orang yang pernah saling mencintai, kenapa Papa nggak punya rasa empati sedikit aja sama mama?” Kiano menghela panjang, lalu menatap Ciara yang duduk di sofa di sebelahnya. “Cia, jangan bikin Papa mengulang kalimat yang sama. Sekarang pergilah ke restoran.” “Papa jahat!” Ciara bangkit dan menghentak kaki. Ia pergi meningg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN