“Betul, kan, aku bilang. Rumah Wahyu di Jakarta berkali lipat lebih besar dari yang di Bali,” ujar Bias setelah membukakan pintu mobil untuk Cinta. Mereka berdua sudah berada di halaman rumah Wahyu yang benar-benar luas dan tertata rapi. Sebuah jalan berpaving membentang di sisi kiri, dibatasi pagar tinggi dengan tanaman rambat yang tumbuh rapi di sepanjangnya. Cinta bahkan tidak tahu, ke mana jalan tersebut tertuju. “Wah! Kesenjangan antara kamu sama pak Wahyu betul-betul terpampang nyata,” ledek Cinta berseringai kecil menatap Bias. “Heh! Dia itu lebih senior dari aku.” Bias langsung membela diri. “Jelas kalau dia lebih segala-galanya.” “Uang pak Wahyu itu, dibuat bangun aset, sementara uangmu dibuat … isi sendiri.” “Heh! Uangku ditabung, diinvestasikan!” Andai tidak hamil, Bias

