160~BC

1871 Kata

“Aku iri.” Cinta mengerucutkan bibir sambil memeluk lengan Bias dari samping. “Dulu waktu kita nikah nggak begini. Nggak ada seserahan, mahar juga … berapa, sih, maharku waktu kita nikah kemarin? Aku lupa.” “Jangankan kamu, aku yang ngomong aja juga lupa,” jawab Bias terus terang. Bagaimana bisa ingat, jika pernikahan mereka dilakukan karena terpaksa. Bukan berlandaskan cinta, melainkan benci dan dendam. “Tapi, uangnya masih ada. Di walk in closet, di samping tempat jam tangan tangan.” Cinta mencebik. Lebih merapatkan diri pada Bias. Mereka tengah melihat Dinda yang sedang berfoto dengan para undangan yang hadir. Aura kebahagiaan terlihat jelas dan hal itu berbanding terbalik dengan pernikahannya dahulu kala. “Nggak ada foto-foto juga, kan?” Cinta menunduk dengan helaan panjang. Ia sada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN