“Sama Papa dulu.” Bias mengangkat tubuh Cibi dari boks bayi. Menciumi pipinya, lalu menggendongnya di depan d**a. Ia membawa putrinya keluar kamar setelah berpakaian rapi dan siap berangkat kerja. Cinta segera membuka pintu kamar, membiarkan Bias keluar lebih dulu barulah ia menyusul. Berjalan di sampingnya lau berhenti di ruang tengah untuk berpamitan pada Alma. “Papa sudah pergi?” tanya Bias menghampiri Alma, setelah memindahkan Cibi ke bahunya. “Sudah dari tadi sama Yosep,” jawab Alma segera berdiri. Niat hati ingin mengambil cucunya dari gendongan Bias, tetapi putranya justru mundur satu langkah. “Sebentar, biar Cibi antar aku ke depan dulu.” “Cantik, Bias, Cantik!” seru Alma meralat panggilan cucunya. “Sudah bagus-bagus dikasih nama Cantik, malah dipanggil Cibi.” “Cibi, Cinta,

