Serangan Fajar

1329 Kata

Sudah pukul 2 malam, aku belum bisa tidur dan perutku terasa lapar. Padahal baru satu jam yang lalu aku makan nasi bakar dan ngemil oleh-oleh dari Mas Rayan. Pikiranku terus terbayang-bayang wajah wanita yang bersama dengan Abi Ahmed tadi sore. Bagaimana bisa mereka bersama? Bukannya hubungan keduanya telah berakhir? Jika, Mas Rayan sampai tahu pasti akan marah sekaligus sedih. Orang yang di sayang dan dipercaya selama ini telah mengkhianatinya. Kalau dipikir-pikir lagi, keluarga suamiku tidak hanya penuh konflik, juga rumit dan isinya orang gila-gila semua. Bukannya aku tak sopan tapi memang begitu kenyataannya. “Sayang ...” “Iya, Bee.” “Gak bisa bobok? Dari tadi miring kanan kiri.” “Bee, kalau aku lapar lagi gimana?” Mas Rayan tertawa, lalu memelukku dari belakang. Soal panggilan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN