"Pria mabuk,” gumamku pelan setelah mendengar jawaban Umi Fatim. Ada seorang Pria mabuk yang memukul-mukul gerbang rumah mertuaku menggunakan aqua galon yang kosong. Pria itu juga berteriak dan mengancam akan mencelakai Abi Khalid dan Mas Rayan. Karena itu lah, Umi menangis dan memintaku agar tidak keluar dari kamar. Menunggu tanpa kepastian membuat hati terasa gelisah. Kamarku terletak di lantai tiga dan tidak bisa melihat keadaan di luar rumah. Ingin rasanya membuat alasan agar bisa keluar kamar, tapi aku tak tega meninggalkan Umi yang tengah ketakutan. “Maaf ya, Nak. Saat kamu menginap malah ada kejadian seperti ini.” “Bukan salah, Umi. Lagian, Mimi gak takut dengan teror semacam ini.” “Semenjak Abangnya Rayan meninggal, kediaman Umi dan Abi tidak pernah ada teror-teror lagi. Baru

