Author POV Elang hanya diam, sementara telinganya terus mendengarkan seseorang yang sedang mengoceh panjang lebar melalui telepon genggam yang menempel di telinga kanan. Pria itu sedang berdiri menatap jalanan kota Semarang dari dinding kaca besar kantornya. Sebelah tangan yang bebas tersimpan di dalam saku celana. Sesekali bibirnya menyungging senyum, tanpa mengetahui jika seseorang yang menghubunginya--sedang mengeluarkan tanduk di kepalanya. Sean tidak tahu harus bicara dengan bahasa apalagi untuk bisa membuat Elang paham. Mengerti, tentang peringatan yang ia berikan untuk menjauh sejauh-jauhnya. Untuk tidak berurusan dengan dirinya. Untuk mengurus istrinya sendiri. Bahwa mereka sudah lama berakhir dan saat ini mereka adalah musuh. Musuh tidak seharusnya mendekat. Itu yang Sean kata

