Siang menjelang sore, suasana di dalam ruang kerja Joceline mendadak tegang bukan karena perdebatan bisnis, melainkan karena kondisi fisik Joceline yang tiba-tiba menurun. Di tengah pembicaraan mengenai desain eksterior, wajah Joceline mendadak berubah pucat pasi. Ia mencengkeram pinggiran meja, berusaha menahan gejolak yang naik ke kerongkongannya. “Jo? Kamu kenapa?” Maxime langsung bangkit dari kursinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Hanya... mual sedikit, Max. Ugh—” Joceline tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, namun tubuhnya lemas hingga ia hampir limbung ke samping. Dengan sigap, Maxime mendekat dan menopang tubuh Joceline. Ia membantu Joceline untuk duduk kembali, satu tangannya memegang pundak Joceline dan tangan lainnya memberikan segelas air

