Pagi itu, Joceline sudah rapi dengan blazer berwarna krem longgar yang sengaja ia pilih demi kenyamanan mengingat dirinya yang mulai memasuki masa tua kehamilan. Ketika merapikan jam tangan, Nathaniel mendekat, sudah rapi dengan setelan kerjanya yang elegan dan wangi parfum yang entah bagaimana akhir-akhir ini sangat Joceline sukai. “Sudah siap?” Joceline mengangguk sebagai jawaban. “Sebelum pergi, ayo ikut aku sebentar.” Nathaniel meraih jemari Joceline, menggenggamnya dengan erat seolah takkan pernah melepaskannya. Pria itu menuntunnya melewati lorong apartemen menuju sebuah pintu yang selama ini selalu tertutup rapat membuat Joceline mengernyitkan dahi. “Nath? Kita bisa terlambat, aku ada janji dengan tim desainer—” Nathaniel tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu ganda itu perla

