Ruang kerja Nathaniel yang luas dan modern itu mendadak terasa sempit. Aroma kopi yang dingin dan tumpukan berkas di meja tidak mampu mengalihkan ketegangan yang menggantung di udara sejak Samantha masuk dan menutup pintu dengan suara yang cukup keras. Nathaniel berdiri di balik meja besarnya, membelakangi sang ibu, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dari balik jendela kaca. Namun, ia tahu ia tidak bisa melarikan diri dari tatapan menghakimi yang kini tertuju padanya. “Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan dengan Joceline, Nath?” Suara Samantha tenang, namun setiap katanya menuntut kejujuran yang enggan diberikan Nathaniel. Anak tertuanya yang sangat bodoh. Nathaniel tidak bergerak. “Bukan apa-apa, Ma.” “Bukan apa-apa?” Samantha melangkah mendekat, suaranya naik satu oktaf. “Kalia

