Lo masih mencintainya?” “Lo bercanda, Hah?!” Nathaniel membentak, suaranya naik satu oktav. “No. Gue hanya bertanya,” sahut Max tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Baguslah kalau lo sudah tidak mencintai Joceline. Lagipula Joceline tidak pantas mendapatkan pria bodoh seperti lo, Nath.” Rahang Nathaniel mengeras. Tanpa peringatan, ia merangsek maju dan menarik dasi Maxime dengan kasar. “Apa lo bilang?” Maxime tidak gentar. Ia justru menghentakkan tangan Nathaniel menjauh dengan sekali gerakan kuat. Ia membenarkan posisi dasinya, lalu menatap Nathaniel lekat namun tetap tenang. “Fokus saja ke pernikahan lo dengan Shenina, Nath. Bagaimana Joceline, itu biarin jadi urusan gue.” “Dan menurut lo, lo pantas untuk Joceline?” Nathaniel mendesis. Lihat, si bodoh ini masih teta

