Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci, Joceline menyandarkan punggungnya sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang masih karu-karuan. Ia menyalakan lampu wastafel, bermaksud mencuci wajah agar kesadarannya pulih sepenuhnya. Namun, saat ia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin besar itu, tangannya mematung di udara. Matanya membelalak sempurna. “Nathaniel... b******k,” umpatnya lirih, namun wajahnya justru memanas hebat. Di bawah cahaya lampu yang terang, pemandangan itu terpampang nyata. Di leher jenjangnya, tepat di sisi kanan, terdapat dua bercak kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Tidak berhenti di situ, saat ia sedikit menurunkan selimut yang dipakainya masuk ke kamar mandi, ia menemukan dua lagi di sekitar tu

