Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang keduanya setelah acara makan malam di kediaman orang tua mereka. Hanya deru mesin mobil mewah Nathaniel yang memecah kesunyian malam. Sisanya, dua manusia yang tak tahu caranya bicara itu hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma maskulin khas Nathaniel yang bercampur dengan wangi sandalwood langsung menyambut mereka. Joceline melangkah masuk lebih dulu, melepaskan high heels-nya dengan helaan napas lega. Namun, belum sempat ia melangkah menuju kamar, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang. Nathaniel menariknya hingga punggung Joceline merapat sempurna pada d**a bidang pria itu. “Nath... ada apa?” Suaranya sedikit bergetar. Jantungnya mulai berdegup kencang karena embusan

