Kediaman utama keluarga Whitmore malam itu tampak benderang. Pilar-pilar marmernya seolah memantulkan kemewahan yang tenang, sementara aroma masakan Prancis yang kaya rempah memenuhi udara. Roland Rutherfold Whitmore duduk di kursi utama dengan wibawa yang kental, didampingi Samantha Queency Whitmore yang sejak tadi tak berhenti melirik ke arah pintu dengan binar tak sabar. Suasana ruang makan yang tadinya ramai oleh celoteh beberapa paman dan bibi Nathaniel mendadak hening sejenak saat pasangan itu masuk. Nathaniel melangkah masuk dengan tangan yang tak lepas dari pinggang Joceline, seolah sedang menegaskan wilayahnya di depan seluruh keluarga besar. “Malam, Pa, Ma,” sapa Nathaniel singkat. “Maaf kami terlambat.” “Joceline, Sayang! Akhirnya kamu datang!” Samantha langsung bangkit da

