Tiana terengah, dadanya naik turun dengan cepat, menatap Leonel dengan pandangan yang nyaris tidak fokus. "Leone l... aku... aku, kan, sudah bilang..." "Katakan lagi, Tiana," potong Leonel dengan nada mengintimidasi yang seksi. Ia mengusap pangkal paha Tiana, namun tidak memberikan tekanan apa pun, hanya sentuhan ringan yang justru membuat Tiana hampir gila. "Katakan padaku apa yang kamu inginkan dengan cara yang sama saat kamu menarik kerah kemejaku malam itu. Aku ingin mendengar kejujuran yang sama." Tiana menggigit bibirnya, air mata frustrasi jatuh ke bantal. Ia merasa sangat penuh, sangat sesak, dan sangat butuh Leonel. "Aku ... aku mau kamu, Mas..." "Mau apanya?" Leonel sengaja memancing, tangannya kini menyentuh area yang sangat sensitif namun hanya diam di sana, tidak bergera

