Tiana merasa seolah seluruh oksigen di dalam kamar itu baru saja tersedot habis. Memori tiga tahun lalu yang selama ini ia anggap sebagai mimpi liar di bawah pengaruh alkohol kini berputar dengan sangat jelas, sedetil aroma wangi yang kini memenuhi indra penciumannya. Ia terjebak. Ia malu bukan main karena menyadari bahwa pria yang paling ia maki, pria yang ia cap sebagai monster otoriter, adalah pria yang sama yang pernah ia mohon-mohon untuk merenggut kesuciannya. Wajah Tiana memerah padam, ia memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata Leonel yang berkilat penuh kemenangan. "Aku ... aku waktu itu mabuk," bisik Tiana dengan suara bergetar, mencoba membela sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur. "Aku nggak tahu kalau itu kamu. Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah—" "Sshh

