Leonel membuka matanya. "Sudah pagi, jam berapa ini?" Leonel melihat jam di sebelahnya, sudah pukul tujuh. Syukurlah, demamnya sudah reda, batinnya sambil menyentuh kening. Tubuhnya terasa segar kembali seolah demam tinggi semalam hanya mimpi buruk sesaat. Dia menoleh ke samping. Tiana tidur dengan posisi aneh. Mulutnya sedikit terbuka dan tangannya mencengkeram kain kompres yang sudah kering. "Kamu pasti lelah, ya, Tiana," gumam Leonel pelan. Dia membetulkan posisi kepala Tiana agar tidak sakit leher saat bangun nanti. Istrinya itu hanya melenguh pelan. Leonel menarik selimut sampai ke bahu Tiana lalu beranjak turun. Perutnya lapar dan teringat bubur yang disuapi Tiana semalam. "Dia pasti delivery," ucapnya pelan. Dia butuh kopi dan sarapan yang normal sekarang. Leonel berja

